Forgot?

Login
Skip to Content

Bagaimana Sebaiknya Hidup Dijalani?

By admin Print Preview

globe-europeJudul di atas, tentu saja merupakan pertanyaan filosofis. Betapa ia memiliki makna dalam, bahkan mungkin pertanyaan esensial bagi seseorang dalam kehidupan ini. Jawaban atas pertanyaan tersebut akan membentuk pola hidup seseorang; bagaimana ia bersikap, memandang dunia, dirinya, dan alam semesta.

Tidak banyak mungkin orang yang berpikir tentang bagaimana sebaiknya hidup ini dijalani. Akibatnya, tidak banyak pula orang yang memaknai hidup ini. Sebaliknya, banyak orang yang menjalani hidup ini tanpa makna, tanpa tujuan, dan tanpa pedoman. Jika demikian, hawa nafsu-lah yang menjadi tuannya. Setanlah yang menjadi pembimbingnya.

Bagi seorang Muslim yang serius dengan keislamannya, tentu pertanyaan di atas menggerakkannya untuk melirik pedoman hidupnya, yakni syariat Islam yang bersumberkan al-Quran dan as-Sunnah.

Paling tidak, secara "sederhana" dan pada garis besarnya, terdapat dua hal yang perlu dipahami untuk mengantar kita ke penemuan jawaban atas pertanyaan di atas. Pertama-tama, dengan merujuk kepda al-Quran, kita pahami arti kehidupan ini bagi kita, umat manusia. Kemudian mencari di manakah posisi kita di alam raya nan fana ini.

Setiap Muslim tentunya mengimani dan menyadari, kehidupan di dunia ini hanyalah sementara. Ia merupakan persinggahan sementara, untuk menuju kehidupan yang kekal abadi, yakni di alam akhirat. "Dunia ini adalah persinggahan untuk menuju negeri akhirat" (ad-dunya majra'atul akhirat).

Kehidupan dunia merupakan cobaan atau ujian dari Allah SWT bagi umat manusia. Dalam al-Quran disebutkan, kehidupan dunia ini adalah untuk menguji manusia siapa di antara mereka yang paling baik amalnya (QS al-Kahfi:7). Al-Quran juga menyatakan, kehidupan dunia ini adalah permainan, senda gurau, perhiasan, dan (ajang) adu kemegahan manusia (QS al-Hadid:20).

Tidaklah mengherankan jika kehidupan di dunia ini begitu memesona dan melenakan, karena ia merupakan ujian dari Allah SWT. Tidak sedikit manusia yang terlenakan oleh kehidupan dan kesenangan duniawi, sehingga melupakan kehidupan yang akan ia jalani secara abadi di akhirat kelak. Tidak sedikit manusia yang terbuai pesona kenikmatan harta, tahta, dan wanita, sehingga mengabaikan aturan Tuhan.

Kehidupan dunia ini merupakan "ruang ujian" dari Allah SWT, untuk membuktikan apakah manusia benar-benar menjadikan-Nya sebagai Tuhan, sebagaimana diikrarkan mereka ketika di alam ruh (Q.S. 7:172). Mereka yang lulus ujian pastilah yang benar-benar menjadikan Allah SWT sebagai Tuhan. Mereka tidak menciptakan dalam dirinya tuhan-tuhan selain-Nya. Mereka hanya tunduk, patuh, dan menuruti perintah satu Tuhan (Allah SWT). Dengan kata lain, mereka memegang teguh prinsip tauhid (keesaan Tuhan) dan menjauhi syirik (menyekutuhan Tuhan).

Adapun posisi manusia di alam atau kehidupan dunia ini, juga merupakan tujuan penciptaan manusia oleh Allah SWT, adalah sebagai hamba ('abid). Sebagai hamba, tugas utama manusia adalah mengabdi (beribadah) kepada Sang Khaliq; menaati perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Hubungan manusia dengan Allah SWT bagaikan hubungan seorang hamba (budak) dengan tuannya. Si hamba harus senantiasa patuh, tunduk, dan taat atas segala perintah tuannya. Demikianlah, karena posisinya sebagai 'abid, kewajiban manusia di bumi ini adalah beribadah kepada Allah dengan ikhlas sepenuh hati (Q.S. 2:21, 98:5, 52:56).

Ibadah berakar kata 'abada yang artinya mengabdikan diri, menghambakan diri. Ibadah dalam arti sempit ialah aktivitas keagamaan ritual seperti shalat, puasa, dan haji. Sedangkan dalam arti luas, ibadah adalah melaksanakan hidup sesuai dengan syariat Islam; aktivitas ekonomi --seperti berdagang, politik, seni, dan lainnya sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Seorang Muslim harus memahami benar posisinnya di hadapan Allah sebagai 'abid ini. Dan pemahamannya itu harus terwujudkan dalam perilaku Islami, karena secara ideal, seseorang yang mengaku Muslim, dirinya telah benar-benar ter-shibghah (tercelup) kedalam "celupan Allah", yakni syariat Islam. Sehingga, segala perilaku kesehariannya berpedoman pada ajaran Islam, setiap gerak langkah dan perbuatannya "dikendalikan" oleh syariat Islam. Wallahu a'lam. (ASM. Romli/zonaislam.com).*

exclusivemails.net

No Responses to “Bagaimana Sebaiknya Hidup Dijalani?” Leave a reply ›

Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>