PERCAYA pada dukun menggejala di kalangan umat Islam. Hal itu diperparah dengan banyaknya “iklan mistis” di berbagai media massa. Banyak yang menawarkan ilmu kekebalan, jimat pengasih alias “pelet”, batu bertuah, jimat agar disayang atasan, dan sebagainya. Semua ilmu itu sumbernya dari bisikan jin untuk menyesatkan manusia dengan menempuh jalan pintas.
Rasulullah Saw telah tegas menyatakan, omongan paranormal atau dukun (kahin) itu jauh lebih banyak bohongnya daripada benarnya.
Para sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah Saw, "Wahai Rasul, tak jarang terkaan para dukun (paranormal) itu benar!". Rasul menjawab, "Informasi itu dari Allah yang berhasil dicuri bangsa jin. Kemudian dibisikkan pada telinga walinya (dukun) ibarat patukan ayam betina, dan mereka pun menambahnya dengan seratus lebih kebohongan" (H.R. Bukhari).
Jelaslah, kebenaran dari terkaan dukun tak lain informasi hasil curian bangsa jin. Tetapi, itu tidak berarti menjadi patokan pembenar atas praktek perdukunan. Praktik tersebut sama saja dengan mengabdi kepada bangsa jin, sehingga mengabaikan doktrin wahyu yang harus diakui kebenarannya.
Percaya kepada dukun jelas dilarang Islam. Rasulullah Saw mengingatkan,
"Barangsiapa yang mendatangi dukun atau peramal, kemudian membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad" (H.R. Arba'ah).
“Barangsiapa yang percaya kepada dukun, maka tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari” (H.R. Muslim).
MARILAH kita luruskan akidah kita. Dalam surat Al-Fatihah, yang kita baca setiap kali shalat, kita menyatakan a.l. iyyaka na’budu wa iyyaka nas ta’in. Hanya kepada-Mu (Ya Allah) kami mengabdi dan kepada-Mu kami meminta pertolongan. Itulah tauhid. Kita tidak menuhankan apa pun selainnya, apalagi menuhankan jin dan dukun!
Bagaimana kalau berobat? Jelas, dokter sebagai perantara datangnya pertolongan Allah. Dokter bekerja atas dasar ilmu (ilmiah, rasional). Sedangkan dukun mengobati penyakit bukan berdasarkan ilmu-rasional, melainkan terkaan atau dugaan saja. Banyak di antaranya yang menjadi “budak jin” alias pengabdi setan. Na’udzubillah! Padahal manusia adalah makhluk termulia, berakal, dan martabatnya di atas jin.
Mempercayai sebuah benda punya tuah atau kekuatan, misalnya isim atau jimat, dilarang Islam karena hal itu bisa termasuk syirik (menyekutukan Allah SWT). Rasulullah Saw pernah memerintahkan seorang pedagang agar membuang cincinnya, ketika si pedagang mengatakan dagangannya laku karena tuah cincin itu.
Semoga Allah SWT memberi kita kesabaran dan kekuatan untuk menghadapi segala masalah yang ada, tanpa terjerumus kepada frustrasi dan mengambil jalan pintas. Amin! Wallahu a’lam. (ASM. Romli/zonaislam.com).*

No Responses to “Jangan Pernah Percaya Dukun atau Ramalan!” Leave a reply ›